Sabtu, 06 November 2010

Setehun Berlalu…

Bagaian 2 :

Aku sangat menikmati kehidupan baruku. Kuliah memang nomor dua bagiku. Buktinya aku lebih suka nongrong-nogrong sambil ditemani sebatang rokok bersama teman-teman yang tak begitu jelas asal-usulnya, bersantai-santai dari pada masuk ruang kelas yang terasakan membosankan.

Dan sekarang aku masuk tingkat 2 semester ke-3. Ternyata tinggal jauh dari orang tua, seperti inilah rasanya. Dan kehidup mandiri, mengatur keuangan untuk kebutuhan sehari-hari satu bulan kedepan. Hanya sendiri di konterakan_ biasa mahasiswa menyebutnya; “Kostan”. Keseharian bisa ku lebih bebas disini. Dan Aku merasakan kebebasan yang sebenar-benarnya yang aku dapatkan.

Uang kiriman cukup untuk membelinya setiap hari. Tapi, namanya juga kehidupan anak kostan ada saja saat-saat aku kehabisan uang jajan. Dan aku t’lah mencoba berhenti sehari dua hari saja. Tapi mengapa membuatku tidak nyaman, terasa ada yang kurang. Serasakan tak ada yang lebih diinginkan dari itu.

Sekarang hidup tak berarti tampa rokok. Setiap hari Aku harus menghisap rokok. Saat bersantai-santai bersama teman-teman, melamun dan sesudah makan; pagiku, siang, dan malam pasti ingin sekali merokok. Dan lebih dari itu juga saat nongrong-nongrong bersama teman-teman kuliahan. Tak ada yang lebih baik kalau tidak ada.

Kelihatanya aku sangat sehat, tapi jiwaku tidak. Betapa inginya ku berhenti saja dari semua ini, tapi entah mengapa hingga saat ini berat rasanya meninggalkan kebiasaan ku ini. Selain jiwaku, rasanya fisik tidak sesehat dulu.

Saat ku berolahraga paforit yaitu sepakbola saat dikampungku dulu dan futsal di sini. Bedanya tipis adalah hobby ku. Namun, permasalahanya sekarang ku tak bisa lagi menikmati permainannya. Baru setengah babak pertama, napasku terasa sesak dan saat berlari mengejar bola sepertinya ini akhirnya untuk istirahat. Tapi terlihat teman-temanku masih bisa menikmati permainan hingga selesai. Sedangkan diriku jangankan sampai selesai. Menyelesaikan satu babak secara maksimal pun saja aku serasa tak sanggup. Menyerah, menarik nampas yang berat dan menyiksa tampa banyak aku sadari.

Dulu aku ingin sekali menjadi olahragawan, setidaknya pemain futsal profesional. Sepertinya semua telah berakhir. Masa muda telah direnggutnya. Menjadi olahragawan bukan lagi pilihan hidupku, mungkin menjadi pemusik saja. Pikirku pendek beralasan. Dan sadari itu, karena aku tak bisa beryanyi dan apalagi mainkan alat musik.

Baca juga : bagian 1, bagian 3, bagian 4

Tidak ada komentar: